Kerlap-kerlip sinar kunang-kunang yang hampir setiap malam menari-nari di tebing hutannyakah, atau…
Deburan ombak seperti musik klasik indah yang setiap malamnya mengantarkan tidurku, yang akan kurindukan nantinya,
Atau,
Deburan ombak seperti musik klasik indah yang setiap malamnya mengantarkan tidurku, yang akan kurindukan nantinya,
Atau,
Senyum dan sapaan halus warganya yang mungkin akan membuat air mataku menetes jika mengingatnya suatu hari nanti…
Tidak ada jaringan listrik, dan hampir setiap malam hanya ditemani oleh dua pelita kecil untuk memberikan sedikit cahaya pada malam-malamku, bukanlah alasan bagiku untuk tidak betah maupun gelisah tinggal dan menetap selama 1 tahun disini.
Bagiku, keramahtamahan dan keluhuran budi merupakan cahaya yang menerangi hari-hariku disini. Itulah yang kurasakan. Aku berbeda. Agama, suku, bahasa, dan kebiasaanku membuatku berbeda dari mereka. Namun, hal itu tidak membuat suatu batasaan bagi mereka untuk memberi perhatian dan rasa sayang serta menjagaku. Teringat kembali saat pertama kedatanganku ke tempat ini. Dengan menggunakan perahu yang biasa digunakan nelayan menangkap ikan, Aku bersama temanku menuju tempat ini. Penuh rasa penasaran awalnya, apakah kami akan diterima dengan baik atau akan ditolak oleh mereka karena secara penampilan, kami berbeda. Namun, hal itu ternyata hanyalah dugaanku saja. Ketika perahu yang kunaiki bersandar di tepi pantainya, orang-orang turun untuk memegangi perahu yang kami tumpangi, agar kami bisa turun tanpa terjatuh. Begitu juga saat kami ingin pulang kembali menuju desa sebelah menumpangi perahu tersebut lagi. Mereka spontan turun ke pantai, dan rela berbasah-basah untuk memegangi perahu kami. Perhatian sederhana, namun bisa membuatku tersentuh. Hal ini tidak akan bisa didapatkan di tempat asalku.
Bagiku, keramahtamahan dan keluhuran budi merupakan cahaya yang menerangi hari-hariku disini. Itulah yang kurasakan. Aku berbeda. Agama, suku, bahasa, dan kebiasaanku membuatku berbeda dari mereka. Namun, hal itu tidak membuat suatu batasaan bagi mereka untuk memberi perhatian dan rasa sayang serta menjagaku. Teringat kembali saat pertama kedatanganku ke tempat ini. Dengan menggunakan perahu yang biasa digunakan nelayan menangkap ikan, Aku bersama temanku menuju tempat ini. Penuh rasa penasaran awalnya, apakah kami akan diterima dengan baik atau akan ditolak oleh mereka karena secara penampilan, kami berbeda. Namun, hal itu ternyata hanyalah dugaanku saja. Ketika perahu yang kunaiki bersandar di tepi pantainya, orang-orang turun untuk memegangi perahu yang kami tumpangi, agar kami bisa turun tanpa terjatuh. Begitu juga saat kami ingin pulang kembali menuju desa sebelah menumpangi perahu tersebut lagi. Mereka spontan turun ke pantai, dan rela berbasah-basah untuk memegangi perahu kami. Perhatian sederhana, namun bisa membuatku tersentuh. Hal ini tidak akan bisa didapatkan di tempat asalku.
Berada disini, awalnya bukan hal biasa bagiku. Karena aku merasa minoritas disini. Kebiasaan hidupku yang selalu berada di lingkungan mayoritas sebelum ku berada disini, membuatku kikuk. Tidak tahu harus berbuat apa. Akan tetapi, cara mereka membimbimbing dan pendekatan mereka kepada kami di awal menetap, membuatku merasa nyaman karena perhatian yang mereka berikan.
Hari itu, setelah ada sebuah rumah warga yang bisa kami tempati, kami langsung memutuskan untuk tinggal dan menetap pada hari itu juga. Karena rumah itu sudah lama tidak ditinggali oleh pemiliknya, otomatis rumah ini masih dalam keadaan kotor berdebu. Banyak sarang laba-laba di dalamnya. Tanpa kami minta, sebagian dari ibu-ibu di tempat ini, membantu kami membersihkan dan merapikan rumah ini. Kata mereka agar kami nyaman dan betah tinggal disini. Belum lagi, ketika kami pulang dari mengajar, mereka selalu menanyakan kami sudah makan atau belum. Rumah yang kami tempati tidak akan ditinggalkan jika kami belum selesai makan. Satu lagi hal yang akan mengisi memori indahku, jika kuingat-ingat lagi nantinya.
Dari berbagai macam hal yang kulalui disini, tidak sedikitpun ku merasa dibedakan. Namun, disini kami terlalu dilindungi. Mulanya merasa terkekang. Tidak bebas keluar masuk dari tempat ini. Kondisi alam yang tidak dapat ditebak, ombak besarnya yang bergulung pada hari-harinya, dan pantai pasir putihnya yang terdapat batu karang, membuat mereka takut membawa kami pada musim-musim tertentu. Kadangkala ketika suatu saat kami membutuhkan sesuatu dan barang yang kami butuhkan hanya ada di pusat kota kabupaten, namun alam sedang tidak bersahabat, mereka melarang kami keluar. Larangan mereka bukan dengan kata-kata, tetapi dengan tindakan mereka yang tidak memberikan kami tumpangan. Kecewa mungkin, namun kami tahu alasan mereka mengapa berbuat demikian. Mereka hanya ingin yang terbaik bagi kami. Karena mereka tahu kondisi kami yang tidak bisa renang.
Keakraban kami sekarang terjalin erat. Tidak jarang mereka memeluk kami. Membawakan kami berbagai macam buah yang mereka dapat dari hutan, datang ke rumah sambil bercanda bersama kami, kadangkala juga mereka membuat kami kesal karena kesengajaan mereka yang ingin melihat kami marah. Namun, kekesalan ini tidak bisa bertahan lama, karena tingkah laku mereka setelah kami marah membuat kami tersenyum bahkan tertawa kembali.
Rasa galau sekarang menderaku. Ketika datang waktu penarikan kami nanti, apakah akan ada pengganti kami disini, hingga anak-anakku ini bisa belajar di sekolah setiap harinya. Seringkali ku mendengar keluhan dari orang tua mereka. Sebelum kedatangan kami, mereka jarang sekali bersekolah. Kerap kali, dalam 1 bulan, mereka hanya bersekolah selama 1 minggu.
Hal ini tergambar pada saat pengabdian kami di tempat ini. Seringkali kami (Aku dan guru SM3T lainnya) hanya mengajar berdua saja dengan sistem kelas rangkap. Kadang kami juga mengajarkan pelajaran agama, walaupun kami berbeda keyakinan dengan mereka.
Aku berharap, ketika kami sudah tidak bertugas disini, anak-anakku tetap bisa mendapat pelajaran setiap hari di sekolah dan mendapatkan pembimbing yang lebih baik dari kami. Karena anak-anakku sangat membutuhkan ilmu dan bimbingan yang dapat selalu memberikan motivasi dan membuat cita-cita mereka terwujud. Banyak cerita indah yang ingin kutuliskan. Namun tinta pena ini mungkin tidak akan cukup untuk menuliskannya.
Kini, sudah beberapa bulan kulewati…
di tempat asing, dimana tak sedikitpun pernah terpikirkan olehku bahwa ku akan berada di sini, Dusun Bunakeng, Lindongan IV Desa Buhias, Kecamatan Siau Timur Selatan, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro, Provinsi Sulawesi Utara.
Tempat yang menakjubkan untukku,
Bahkan, pengalaman ini tak akan kutukar oleh benda yang sangat berharga sekalipun,
Setiap hariku disini, diselingi oleh tawa canda, tangisan duka, keceriaan, bahkan kemuraman yang menghiasinya,
di tempat asing, dimana tak sedikitpun pernah terpikirkan olehku bahwa ku akan berada di sini, Dusun Bunakeng, Lindongan IV Desa Buhias, Kecamatan Siau Timur Selatan, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro, Provinsi Sulawesi Utara.
Tempat yang menakjubkan untukku,
Bahkan, pengalaman ini tak akan kutukar oleh benda yang sangat berharga sekalipun,
Setiap hariku disini, diselingi oleh tawa canda, tangisan duka, keceriaan, bahkan kemuraman yang menghiasinya,
Teman baru disini menggantikan keberadaan dari teman lama yang tak ingin kutinggalkan,
Sahabat baru disini menggantikan keberadaan dari sahabat lama yang tak ingin kulupakan,
bahkan keluarga baru kutemukan disini, menggantikan keberadaan keluarga yang untuk sementara kutinggalkan,
Sahabat baru disini menggantikan keberadaan dari sahabat lama yang tak ingin kulupakan,
bahkan keluarga baru kutemukan disini, menggantikan keberadaan keluarga yang untuk sementara kutinggalkan,
Lelah, mungkin...
Untuk sementara waktu, di masa awal kedatangan ku...
Mungkin karena penyesuaian, mungkin juga karena ketidaknyamananku karena berada di tempat dimana aku menjadi minoritas,
Takut, mungkin...
kesan awal pada saat ku berada di sini,
Mungkin karena kebiasaan yang berbeda dari tempat tinggalku sebelumnya,
mungkin juga karena aku belum terbiasa berada di tempat yang asing bagiku,
Hari-hari berjalan dengan cepat,
Waktu tak bisa dihentikan, tak bisa dipercepat, maupun diperlambat...
Setiap waktu kujalani dengan pasrah yang dipenuhi oleh rasa pengabdian tulus yang tumbuh dari tunas keyakinan hati yang ikhlas,
Kulewati semua tantangan, hambatan, dan rintangan dengan usaha yang keras dalam memerangi sifat mengeluh,
Semangat selalu kuusahakan agar tetap tertanam kuat dalam akar kepercayaanku, bahwa yang kujalani sekarang sangatlah berarti untuk hidupku nanti,
berarti bukan hanya untuk hidupku, namun untuk kehidupan dan masa depan anak-anak yang ada di tempat tugasku sekarang,
Mereka harus sekolah, harus pintar, dan harus mencintai negara mereka,
Itu yang terus kutanamkan pada diri mereka sejak ku berada disini...
Hari ini, aku tersenyum...
Tersenyum karena keceriaan mereka,
Tersenyum karena aku bisa memberikan sedikit kebahagiaan untuk mereka,
Untuk sementara waktu, di masa awal kedatangan ku...
Mungkin karena penyesuaian, mungkin juga karena ketidaknyamananku karena berada di tempat dimana aku menjadi minoritas,
Takut, mungkin...
kesan awal pada saat ku berada di sini,
Mungkin karena kebiasaan yang berbeda dari tempat tinggalku sebelumnya,
mungkin juga karena aku belum terbiasa berada di tempat yang asing bagiku,
Hari-hari berjalan dengan cepat,
Waktu tak bisa dihentikan, tak bisa dipercepat, maupun diperlambat...
Setiap waktu kujalani dengan pasrah yang dipenuhi oleh rasa pengabdian tulus yang tumbuh dari tunas keyakinan hati yang ikhlas,
Kulewati semua tantangan, hambatan, dan rintangan dengan usaha yang keras dalam memerangi sifat mengeluh,
Semangat selalu kuusahakan agar tetap tertanam kuat dalam akar kepercayaanku, bahwa yang kujalani sekarang sangatlah berarti untuk hidupku nanti,
berarti bukan hanya untuk hidupku, namun untuk kehidupan dan masa depan anak-anak yang ada di tempat tugasku sekarang,
Mereka harus sekolah, harus pintar, dan harus mencintai negara mereka,
Itu yang terus kutanamkan pada diri mereka sejak ku berada disini...
Hari ini, aku tersenyum...
Tersenyum karena keceriaan mereka,
Tersenyum karena aku bisa memberikan sedikit kebahagiaan untuk mereka,




Tidak ada komentar:
Posting Komentar